Pantai Penyu Hijau terbaik di Indonesia

Penyu Hijau (Chelonia mydas) memang berwarna agak hijau pada bagian tubuh, daging, dan lemaknya, sesuai dengan namanya. Saat dewasa biasanya berukuran rata-rata 100 cm, bahkan ada yang hingga mencapai 250 cm. Saat masih kecil atau anakan, jenis ini merupakan karnivora, tapi saat dewasa dia juga memakan ganggang dan daun-daun vegetasi mangrove/pantai.
Pantai Sukamade terletak di Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Jember – Banyuwangi merupakan tempat pendaratan penyu hijau terbaik di Indonesia versi Saya, di samping panorama alamnya yang juga bisa disebut “privacy beach” serta bagus untuk acara sesi pemotretan “pre wedding”, tapi tidak untuk diving ataupun snorkeling karena keselamatan lebih penting daripada lo pada pusing mending di sini lu bawa dah tu pancing, kita fishing sekalian refreshing.

Jumlah rata-rata pendaratan jenis ini tiap malamnya mencapai belasan bahkan hingga puluhan ekor, mulai dari petang hingga pagi hari. Di sini, setiap malam dilakukan patroli dan pengamatan penyu untuk memastikan telur penyu tetap aman dari pencurian sekaligus mendata penyu-penyu yang mendarat dan bertelur di patai yang curam dan berombak besar ini. Untuk jenis yang masih muda, biasanya dalam satu kali bertelur mengeluarkan sekitar 50 – 80 butir telur, sedangkan yang sudah dewasa bisa lebih dari 100 butir telur dalam satu malam. Di Sukamade terdapat penangkaran penyu semi eksitu, dilakukan di kantor resot Sukamade, SPTN 1 Sarongan Taman Nasional Meru Betiri. Ukuran lokasi penangkaran sekitar 5 x 12 m dengan dinding yang dibiarkan berlubang agar sirkulasi angin di dalam rumah tersebut lancar, dan juga berlantaikan pasir pantai Sukamade. Biasanya setiap minggu dilakukan penebaran tukik penyu-penyu ini kembali dari penangkaran ke laut pantai Sukamade. Mudah-mudahan banyak yang tetap hidup, karena  banyak yang bilang bahwa angka kehidupan tukik-tukik ini 1:1000, jadi dari 1000 tukik yang dilepaskan, hanya 1 ekor yang hidup (kejam banget yang bikin itu statement). Lihat saja para anggota PURPALA (Pura-Pura Pencinta Alam) di bawah, mendapat tugas (judulnya si, padahal dikerjain doang) untuk menghitung tukik yang dilepaskan. Total pada saat itu kami melepaskan sekitar 2500 ekor tukik (nego dikit), berarti hanya sekitar 2-3 ekor yang bisa survive..waaahh..paraaahh. Hal ini biasanya disebabkan oleh kemampuan bertahan yang lemah dari ekosistem yang baru, juga karena adanya predator alami (bukan berkepala hitam / red.manusia), seperti ikan-ikan besar, biawak dan burung predator laut.
Informasi lainnya dapat dilihat pada tulisan saya di Warta Herpetofauna Edisi September 2009 , atau juga dapat melalui situs resmi Taman Nasional Meru Betiri .


"Ketika semua memilih jalan masing-masing dan meninggalkanku, akupun akan tetap berjalan sesuai dengan inginku, jauh terus berjalan. Biar ombak menghempasku, biar pasir ikut menimbunku, hingga karang menghantamku, aku akan terus pergi menuju sebuah titik kelestarian"


Komentar

Posting Komentar