Surya Kencana dari Papua


Ketika melakukan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede –Pangrango, terasa kurang lengkap jika tidak melewati hamparan padang rumput yang ditumbuhi bunga edelweiss (Anaphalis javanica) di Surya Kencana. Ya, siapa yang tidak ingin menikmati beberapa menit saja waktu untuk berdiam diri di sana hanya untuk sekedar berfoto, merekam video, ataupun hanya diam, dan menikmati dengan mata dan disapu oleh kabut dingin di tempat yang konon menjadi tempat penting saat kerajaan Sunda Padjajaran jaman dulu.

Saat melakukan kunjungan yang jauh dari Surya Kencana tersebut, bahkan Pulau Jawa, yaitu Nabire, Papua, saya menemukan tempat yang nyaris sama dengan Surya Kencana di TNGP, Padang Rumput Ruija. Dari cerita masyarakat setempat, kawasan yang sekarang lebih Nampak sebagai padang pengembalaan untuk satwa herbivora ini merupakan tempat asal mula nenek moyang 4 suku besar yang ada di Papua (nama suku dirahasiakan karena  belum mendapatkan ijin..hehee). Sekitar 200 tahun lalu, di lokasi ini masih terdapat satu rumah besar untuk ditinggali oleh orang asli pulau ini. Pada suatu hari terjadi konflik kepentigan (kaya orang jaman sekarang aja), sehingga terdapat perpecahan yang mengakibatkan sebagian besar dari mereka membuat suku-suku baru sendiri (ternyata kaya gini ya cara bikin suku..ckckckk) sehingga masih ada satu kelompok lagi yang memilih tinggal di rumah tersebut. Mungkin karena masih ada perselisihan dan sebagainya, pada suatu malam, rumah yang tadinya digunakan untuktinggal bersama tersebut dibakar oleh beberapa orang dari kelompok yang sebelumnya memilih keluar dari ikatan dengan rumah tersebut, sehingga sekarang tempat ini menjadi tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat kawasan ini.
 
 
 
 

Walaupun pernah menjadi areal HPH, kawasan padang rumput ini yang masuk dalam ekosistem kerangas, masih dikelilingi tegakan hutan yang cukup bagus, walaupun hanya dalam radius ratusan meter. Di tempat ini pula menjadi tempat berkumpul satwa untuk mecari makan, baik herbivore mapun insectivore. Tapi walaupun menjadi tempat keramat, masih ada saja yang meu membakar rumput-rumput di tempat ini dengan tujuan agar rumput muda tumbuh dengan baik sehingga satwa-satwa yang akan diburu akan lebih senang untuk berkumpul di tempat ini, dan akan mempermudah perburuan satwa tentunya. Apapun itu, semoga semua hal tentang kebaikan, baik alam, budaya, dan manusia itu sendiri akan terus berjalan dengan baik.

Komentar

Pos populer dari blog ini

upload peta ke GPS

ArcBruTile - Tile Services in ArcGIS Desktop