Cagar Alam Gn. Simpang, Bandung - Cianjur

 
Cagar Alam Gunung Simpang
Tempat ini mungkin tidak populer nama nama kawasan suaka alam seperti Cagar Alam Gunung Papandayan, Cagar Alam Burangrang, dan Cagar Alam Gunung Tilu, Cagar Alam Tangkuban Perahu, dal saudara-saudaranya. Tapi justru karena itu, HIMAKOVA FAHUTAN IPB mengadakan eksplorasi data tentang flora, fauna, dan ekowisata serta budaya masyarakat setempat di lokasi ini, disamping karena base data di cagar alam ini relatif sedikit.
Kawasan Gunung Simpang merupakan Cagar alam yang terletak di bagian selatan Bandung dengan luas 15000 ha. Kawasan ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 41/Kpts/Um/1/1979 tanggal 11 Januari 1979. Kawasan Cagar Alam Gunung Simpang memiliki beberapa gunung/bukit yang bervariasi ketinggiannya diantaranya adalah Gunung Simpang, Gunung Burangrang, Gunung Kapuk, Gunung Padang, dan Gunung Kuring. Pertimbangan perlindungan fungsi hidrologis kawasan hutan serta perlindungan flora dan fauna endemik, senada dengan kepentingan preservasi daerah tangkapan air, perlindungan hutan hujan tropis serta wildlife refugee, khususnya bagi leopard dan tiga spesies primata di Jawa Barat melatarbelakangi pencagaran kawasan Gunung Simpang. Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan penunjang budidaya. Daerah ini ditutupi oleh hutan hujan pegunungan yang memiliki peranan penting pada secara ekologi, ekonomi, dan sosial, sehingga kelestarian kawasan Cagar Alam Gunung Simpang telah berperan sebagai penyangga kepentingan kehidupan masyarakat sekitar.
 
Peta Lokasi CA. Gn. Simpang
 Kawasan Cagar Alam Gunung Simpang (CAGS) terletak pada 7°20'21"-7°21'13" Lintang selatan dan 107°25'15"-107°26'12" Bujur Timur. Secara administratif termasuk wilayah Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur dan Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat.  Kawasan ini memiliki luas kawasan sekitar 15000 ha.
 
Salah satu sungai di dalam kawasan CA. Gn. Simpang
 
Air Terjun Cisabuk
Hutan hujan pegunungan di kawasan ini didominasi oleh jenis vegetasi Rasamala (Altingia excelsa) yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu jenis pohon yang dilindungi di Indonesia. Selain itu kawasan ini menjadi habitat penting bagi Owa jawa (Hylobathes moloch) yang penyebaran dan keberadaannya kini sudah terancam. Pada kawasan ini juga masih dapat ditemui burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang merupakan indikator biologis bagi kualitas lingkungan.
 
Rhacoporus Javanus
  Inventarisasi data menemukan jenis dari keluarga mamalia sebanyak 15 jenis, keanekaragaman jenis burung yang dapat dijumpai di CAGS sebanyak 41 jenis, 15 jenis herpetofauna yang terdiri dari 11 jenis amfibi dari 4 famili dan 4 jenis reptil dari 3 famili, serta teridentifikasi 24 jenis kupu-kupu dari 4 famili.
Hasil kajian etnobotani di CA Gunung Simpang menunjukan lebih kurang 47 spesies tumbuhan dimanfaatkan. Tumbuhan Pangan 11 spesies, yang terdiri dari 20 spesies tumbuhan obat, 4 spesies tanaman hias, 6 spesies ahan konstruksi bangunan, dan yang lainnya (kosmetik, pakan ternak, dan kerajinan) sebanyak13 spesies. Habitus dari tumbuhan yang digunakan berbeda-beda, seperti kulit, daun muda, daun tua, buah (muda atau tua), akar, bunga, anakan, getah, dan bagian lainnya.
 
Menumbuk Padi
Fenomena alam dan kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Gunung Simpang memberikan peluang untuk diadakannya dan dikembangkannya ekowisata karena keindahan dan keunikannya. Pertanian di sekitar kawasan cagar alam sangat potensial dijadikan wisata agraris, karena hampir semua warganya bercocok tanam dan berkebun dengan situasi, kondisi dan cara yang berbeda pada daerah lain. Sejarah kehidupan, budaya hidup, dan benda-benda unik, menarik dan mengagumkan yang berada di masyarakat sekitar kawasan juga memungkinkan untuk dijadikan program wisata budaya dan sejarah. Fenomena alam yang terdapat di dalam dan sekitar kawasan ini juga bisa memberikan peluang wisata alam yang penuh dengan tantangan yang akan terbayarkan setelah langsung melihat ketakjuban alam di Cagar Alam Gunung Simpang.
 
Kampung Kubang Bodas
 Di lokasi in juga terdapat situs purbakala yang belum diketahui banyak orang, yaitu Arca Cemplarang. Arca Cemplarang merupakan sebuah batu yang menyerupai seorang anak kecil yang sedang menangis sendirian.
 
Arca Cemplarang

Informasi lainnya dari kegiatan ini dapat dilihat di blog HIMAKOVA atau langsung ke Tangkaran HIMAKOVA di lingkungan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Kampus IPB Darmaga PO.BOX 168 Bogor 16601

Komentar

  1. Terimakasih sharing infonya. Sangat beranfaat.

    BalasHapus
  2. Haturnuhun atas info nya yg sangat bermanfaat ini.

    BalasHapus

Posting Komentar